Ekonomi Indonesia Tumbuh, Tapi Mengapa Banyak Orang Belum Merasakannya?

Ekonomi Indonesia belum terasa bagi sebagian masyarakat meskipun perekonomian nasional terus mencatat pertumbuhan. Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan. Angka tersebut memang menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berkembang, tetapi masyarakat tidak otomatis merasakan kenaikan manfaat dengan cara yang sama.

Masalahnya bukan semata-mata pada angka pertumbuhan. Masyarakat merasakan ekonomi melalui pendapatan, harga kebutuhan, pekerjaan, cicilan, dan kemampuan menyisihkan uang.

Karena itu, angka PDB yang tumbuh belum tentu langsung membuat dompet terasa lebih longgar.

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Terbagi Rata

Pertama, pertumbuhan ekonomi menggambarkan aktivitas seluruh perekonomian. Sementara itu, setiap rumah tangga memiliki kondisi yang berbeda.

Sebagian orang mungkin memperoleh kenaikan pendapatan. Namun, sebagian lainnya mungkin masih menghadapi pendapatan yang stagnan atau peluang kerja yang terbatas.

Selain itu, sektor yang tumbuh cepat belum tentu menjadi sektor tempat semua masyarakat bekerja.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan triwulan II 2026 tetap ditopang permintaan domestik, industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Namun, BI juga menilai investasi swasta masih perlu diperkuat.

Artinya, pertumbuhan memang berjalan, tetapi manfaatnya tetap bergantung pada seberapa luas aktivitas ekonomi tersebut menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja.

Harga Masih Menentukan Isi Dompet

Selanjutnya, masyarakat tidak hanya melihat pendapatan. Mereka juga memperhatikan harga.

BPS mencatat inflasi tahunan Juni 2026 sebesar 3,34%, sedangkan inflasi inti mencapai 2,76%. Secara bulanan, harga konsumen naik 0,44%.

Angka tersebut masih berada dalam konteks inflasi yang terkendali. Namun, harga barang yang sudah naik tidak otomatis kembali ke level sebelumnya ketika inflasi melambat.

Karena itu, masyarakat bisa tetap merasakan biaya hidup yang tinggi meskipun laju inflasi tidak melonjak.

Kebutuhan Harian Bisa Menyerap Kenaikan Pendapatan

Ada alasan lain yang sering luput.

Ketika pendapatan bertambah, rumah tangga tidak selalu langsung memiliki uang lebih banyak untuk ditabung. Mereka juga menghadapi kenaikan kebutuhan.

Misalnya, keluarga dapat menggunakan tambahan pendapatan untuk membayar transportasi, makanan, pendidikan, kesehatan, atau kebutuhan rumah.

BPS mencatat pada Juni 2026 indeks konsumsi rumah tangga petani naik 0,49%, dengan kelompok transportasi memberikan kenaikan terbesar. Pada periode yang sama, harga beras premium di tingkat penggilingan juga naik 1,01% secara bulanan.

Jadi, kenaikan biaya tertentu dapat mengurangi ruang keuangan meskipun pendapatan tetap berjalan.

Konsumsi Masih Tumbuh, Tapi Masyarakat Bisa Lebih Selektif

Pertumbuhan konsumsi juga memberikan gambaran menarik.

Masyarakat Indonesia tetap berbelanja, tetapi mereka tidak selalu membeli dengan pola yang sama. Konsumen dapat memilih produk yang lebih murah, menunda pembelian besar, atau membandingkan harga sebelum bertransaksi.

Bank Indonesia mencatat penjualan ritel pada Mei 2026 mengalami kontraksi 1,5% secara bulanan, meskipun kondisi tersebut membaik dari kontraksi 11,6% pada periode sebelumnya.

Karena itu, konsumen tidak berhenti berbelanja. Mereka justru dapat mengubah prioritas.

Pola tersebut membuat bisnis harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan penjualan.

Lapangan Kerja Menentukan Apakah Pertumbuhan Terasa

Pertumbuhan ekonomi akan terasa lebih nyata ketika peningkatan aktivitas produksi menciptakan pekerjaan dan pendapatan yang lebih luas.

Jika perusahaan memperluas produksi, mereka dapat merekrut pekerja baru. Selanjutnya, pekerja tersebut membelanjakan pendapatannya dan menciptakan permintaan baru.

Namun, jika pertumbuhan lebih banyak berasal dari sektor yang padat modal atau tidak menciptakan banyak pekerjaan baru, dampaknya terhadap sebagian rumah tangga bisa terasa lebih lambat.

Karena itu, kualitas pertumbuhan menjadi sama pentingnya dengan angka pertumbuhan.

Pemerintah Masih Menjadi Salah Satu Penggerak

Pada triwulan II 2026, pemerintah ikut menopang pertumbuhan melalui percepatan belanja dan sejumlah program prioritas. Bank Indonesia menyebut konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, sementara konsumsi rumah tangga juga mendapat dukungan dari bantuan pangan, potongan tarif transportasi, serta program magang dan pelatihan vokasi.

Program tersebut dapat membantu menjaga aktivitas ekonomi dalam jangka pendek.

Namun, perekonomian membutuhkan sektor swasta agar pertumbuhan dapat bertahan lebih lama. BI sendiri menilai investasi swasta masih perlu terus ditingkatkan.

Dengan demikian, pemerintah dapat memberikan dorongan awal, tetapi perusahaan perlu memperluas kapasitas dan menciptakan lapangan kerja.

Ada Jarak antara Angka Makro dan Pengalaman Rumah Tangga

Inilah alasan utama mengapa ekonomi Indonesia belum terasa bagi sebagian masyarakat.

Indikator makro seperti PDB mengukur keseluruhan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, rumah tangga mengukur kondisi ekonomi melalui pertanyaan yang jauh lebih sederhana:

  • Apakah pendapatan saya naik?
  • Apakah pekerjaan saya lebih aman?
  • Apakah harga kebutuhan lebih terkendali?
  • Apakah saya mampu menabung?
  • Apakah cicilan semakin ringan?
  • Apakah saya bisa membeli kebutuhan tanpa mengurangi pengeluaran lain?

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut belum berubah secara signifikan, masyarakat tentu belum merasakan perbaikan ekonomi secara nyata.

Apa yang Harus Terjadi agar Pertumbuhan Lebih Terasa?

Pertumbuhan ekonomi perlu menghasilkan beberapa perubahan sekaligus.

Pendapatan Harus Meningkat

Pertumbuhan yang sehat perlu meningkatkan kemampuan masyarakat memperoleh penghasilan.

Produktivitas Harus Naik

Perusahaan perlu menghasilkan lebih banyak nilai agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada peningkatan konsumsi.

Investasi Swasta Harus Bergerak

Investasi dapat memperbesar kapasitas produksi dan membuka lapangan kerja baru.

Harga Harus Tetap Terkendali

Pertumbuhan pendapatan akan kehilangan manfaat jika biaya hidup meningkat terlalu cepat.

Manfaat Pertumbuhan Harus Lebih Merata

Sektor dan wilayah yang berbeda perlu memperoleh kesempatan untuk ikut tumbuh.

Dengan kombinasi tersebut, pertumbuhan ekonomi akan lebih mudah terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Ekonomi Indonesia belum terasa bagi sebagian masyarakat bukan berarti pertumbuhan ekonomi nasional tidak terjadi. Indonesia tetap mencatat pertumbuhan 5,29% pada triwulan II 2026, sementara berbagai sektor ekonomi terus bergerak.

Namun, masyarakat tidak mengukur ekonomi melalui PDB. Mereka mengukurnya melalui gaji, harga kebutuhan, pekerjaan, cicilan, dan tabungan.

Karena itu, tantangan Indonesia bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan. Indonesia perlu memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan pendapatan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih luas, produktivitas yang lebih tinggi, dan biaya hidup yang tetap terkendali.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi baru benar-benar terasa ketika angka positif di laporan ekonomi mulai berubah menjadi kondisi yang lebih baik di kehidupan sehari-hari.

Pilihan berkualitas untuk kebutuhan proyek